[DILEMA] - Lingkungan Asri Desa Wangunjaya sebagai Cermin Kerusakan Ekologis di Kota dan Nusantara.
Judul: Lingkungan Asri Desa Wangunjaya sebagai Cermin Kerusakan Ekologis di Kota dan Nusantara
Penulis: Fadhilatus Sholihah Ahfa
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Desa Wangunjaya, Kabupaten Lebak, saya merasa seperti ditarik kembali ke masa kecil. Udara segar yang bebas polusi, suara burung yang masih ramai di pepohonan, dan hamparan sawah yang menghijau membuat saya seakan sedang bernostalgia dengan lingkungan rumah saya di Mauk, Tangerang. Dahulu, Tangerang juga terasa sejuk, asri, dan penuh dengan pepohonan. Namun, kini pemandangan itu berubah drastis. Deretan pabrik, kemacetan, limbah, serta proyek pembangunan yang tiada henti membuat kualitas lingkungan di perkotaan semakin menurun. Bahkan, dilansir dari Tempo.co, pada Jum’at, 23 Mei 2025. Ada pabrik peleburan baja di Cikupa, Tangerang yang tidak mengolah limbah asapnya sehingga memperburuk kualitas udara dan membahayakan masyarakat sekitar.
Kontras yang saya alami ini seolah menghadirkan cermin di satu sisi, ada Desa Wangunjaya yang masih mampu menjaga harmoni dengan alam, sementara di sisi lain ada kota-kota besar yang tenggelam dalam polusi dan kerusakan ekologis. Desa Wangunjaya memperlihatkan kepada kita bahwa kehidupan sederhana yang menyatu dengan alam bukan hanya mungkin, tetapi nyata.
Masyarakat di sana masih mempraktikkan sistem kasepuhan dalam bertani, sebuah tradisi turun-temurun yang penuh kearifan lokal. Mereka menanam padi dengan mengikuti siklus alam, tidak terburu-buru oleh tuntutan pasar, dan tidak mengandalkan pupuk kimia secara berlebihan. Hasil tani inilah yang menjadi sumber pangan utama, berpadu dengan hasil hutan yang mereka jaga bersama-sama. Daun, buah, hingga umbi dari hutan bukan hanya pelengkap, melainkan penopang hidup sehari-hari. Ketergantungan mereka pada tanah dan hutan membuat relasi dengan alam terasa begitu dekat. Alam bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi, melainkan ibu yang harus dirawat.
Namun, ketika kita memperluas pandangan ke skala nasional, situasi lingkungan Indonesia justru semakin memprihatinkan. Berita tentang deforestasi di Kalimantan dan Sumatra terus menghiasi media. Ratusan ribu hektare hutan hilang setiap tahun, membawa serta habitat satwa endemik dan mengubah iklim mikro di banyak daerah. Lebih ironis lagi, dilansir dari kompas.id, 16 Juni 2025, di Raja Ampat, surga laut yang menjadi kebanggaan Indonesia, muncul proyek tambang yang mengancam ekosistem dan keindahan alamnya.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah kita rela keindahan alam yang diwariskan leluhur kita hilang satu per satu hanya karena nafsu pembangunan dan eksploitasi?
Pengalaman di Desa Wangunjaya memberi jawaban sederhana, masyarakat di sana hidup dengan kearifan lokal, memanfaatkan alam secukupnya, dan menjaga kelestariannya karena mereka sadar, tanpa alam, hidup mereka tidak akan bertahan. Ini pelajaran penting bagi kita semua, khususnya di perkotaan yang seringkali lupa bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada keberlangsungan ekosistem.
Advokasi lingkungan menjadi semakin mendesak. Bukan hanya tugas aktivis atau lembaga swadaya masyarakat, melainkan tanggung jawab bersama, pemerintah yang harus memperketat izin pembangunan, masyarakat yang harus kritis terhadap kerusakan lingkungan, serta generasi muda yang harus menjaga kesadaran ekologis agar tidak terjebak pada pola konsumsi dan gaya hidup yang merusak.
Desa Wangunjaya hanyalah satu contoh kecil, tetapi ia adalah cermin besar bagi Nusantara. Dari desa yang masih asri ini, kita diingatkan tentang apa yang sudah hilang di kota, sekaligus diberi harapan bahwa alam Indonesia masih bisa dijaga jika kita bersama-sama peduli. Jangan sampai suatu saat nanti, nostalgia tentang udara segar dan sungai yang jernih hanya bisa kita ceritakan, tanpa pernah lagi kita rasakan.


Posting Komentar
0 Komentar