Judul: Mandiri Yang Sesungguhnya

Oleh: Arin Vidiyani Aripin

Rintik-rintik hujan menghampiri seorang gadis kecil yang sedang menunggu jemputan bus besar. Ia terlihat sangat tergesa-gesa karena tidak ingin baju seragam yang cantik nya itu basah terkena tetesan air hujan. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 bus jemputan nya itu belum terlihat batang spion nya sekalipun. Lima menit pun berlalu dan gadis kecil itu pun mendapatkan bus besar yang bisa ia naiki. 

"Duh baju ku basah ni, bisa² sampe rumah aku diomelin". 

Rasa khawatir gadis kecil itu pun bertambah besar sampai ia berpikir untuk tidak pulang kerumah. 

"Apa aku ga usah pulang kerumah ya, tapi kalau ga pulang kerumah,,aku kemana?, ke kolong jembatan? Kan ga mungkin, secara, aku kan takut banget sama kegelapan, yaudah aku nekat pulang aja deh".

Terdengar dari dalam rumah perempuan tua ada suara sepatu yang sedang lari seperti seseorang yang sedang dikejar hantu.

"Siapa sih magrib - magrib gini lari-larian" ujar seorang perempuan tua.

"Tok tok tok,, assalamualaikum" ucap gadis kecil yang amat sangat lelah”. "Waalaikumussalam, masih ingat juga kamu sama rumah ini?" sindiran keras dari seorang perempuan tua.

 Gadis kecil itu hanya bisa terdiam dan tidak bisa membentak perempuan tua itu, karena kalau sudah sekali saja membentak abis sudah hidup gadis kecil itu. 

"Eeeeemmm, aku tadi abis ikut eskul di sekolah Bu jadi aku pulang agak telat" ucap gadis kecil. 

"Kenapa ga sekalian aja kamu nginep di sekolah?" pertanyaan retoris dari seorang perempuan tua itu. 

Gadis kecil itu pun bergegas lari ke dalam kamar dan meninggalkan barang bawaannya yang ia bawa dari sekolah nya. Setelah sampai di kamar, ia langsung membaringkan badan nya. Lalu ia terdiam, melamun seperti orang yang sudah terkena hipnotis. Ia berfikir apakah mengikuti eskul cara yang salah untuk mengisi waktu luangnya. Ia pun tertidur tanpa memasuki makanan ke dalam perutnya. 

Matahari pun sudah memunculkan wujudnya di luar jendela kamarku. Aku bergegas untuk bangun dan mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa ke sekolah. Sesampainya ia di depan meja makan... 

"Aduduh bagus ya jam segini baru bangun" ucap perempuan tua yang selalu tidak suka dengan kelakuan gadis kecil nya. 

Ia menghiraukan apa yang diucapkan perempuan tua sampai akhirnya makanannya pun sudah tidak ada sisa di atas piring. Gadis kecil itu hanya memikirkan satu hal, ia hanya takut telat memasuki sekolah karna waktunya dihabiskan untuk mendengar omelan dari perempuan tua itu.

"Duh sebenarnya aku takut ni mau minta izin pergi ke sekolah, tapi kalau aku tunda-tunda terus minta izin nya yang ada aku kesiangan". 

"Bu aku mau pergi sekolah dulu" (seraya memberikan tangan nya seperti ingin bersalaman).

"Yaudah sana, jangan sampai pulang telat seperti kemarin lagi". Ucap perempuan tua itu, tetapi ia menghiraukan tangan dari gadis kecil nya itu. 

Waktu terus berjalan dan akhirnya sampailah di tempat biasa ia dijemput oleh bus besar. Waktu terlihat berputar sangat cepat bagi gadis kecil itu, karena 5 menit sebelum bel masuk ia masih berada di dalam bus besar. Dan benar saja gadis kecil itu tidak bisa memasuki gerbang sekolah karena sudah melewati jam yang seharusnya. Ia hanya diberikan surat oleh gurunya tetapi ia langsung terdiam dan terkejut seperti seolah-olah surat itu diberikan dari kekasihnya. 

"Ini surat ga salah? Aku cuma telat beberapa menit doang loh masa harus membawa-bawa orang tua sih" 

Gadis kecil itu berfikir keras memikirkan bagaimana caranya membawa orang tua nya ke sekolah. 

"Duh gimana caranya aku bawa orang tua ku ke sekolah ya, aku salah ambil sayuran di pasar aja diomelin, apalagi ini aku membuat kesalahan telat masuk sekolah, bakalan abis ni aku" ocehan gadis kecil di dalam kelas. 

"Waktunya pulang untuk kelas 10" bel sekolah pun berbunyi. 

"Huftt akhirnya aku pulang juga" rasa syukur gadis kecil itu karna ia dapat secepatnya memberikan surat peringatan dari sekolah itu. 

Tetapi di tengah gadis kecil itu menuruni tangga sekolah ia melihat sesuatu yang mungkin membawa keberuntungan bagi gadis kecil dan keluarga nya itu. 

Setelah sampai dirumah ia mencoba merangkai kata-kata nya untuk bisa memberikan surat yang diberikan gurunya kepada gadis kecil itu. 

"Duh bismillah deh aku coba bilang" ucap gadis kecil itu sambil jalan menghampiri perempuan tua yang sedang memasak. 

"Bu aku dapet surat loh dari seseorang" ucap gadis kecil itu yang seakan-akan surat itu dari kekasihnya. 

"Surat dari mana kamu? Dari pacar mu ya?" respon dari perempuan tua yang sambil menghaluskan bumbu-bumbu dapur. 

"Emmm,, aku akan kasih tau ibu, tapi ibu jangan marah ya" 

"Sebenarnya aku dapat surat peringatan Bu dari sekolah, karna tadi pagi aku telat" ia berbicara sambil terbata-bata. 

"APA? KAMU DAPAT SURAT PERINGATAN? PASTI MAKSUDMU IBU HARUS DATANG KE SEKOLAH KAN?"

"Eumm iyaa Bu,,plis dateng ya bu" gadis kecil itu berusaha membujuk perempuan tua yang sudah terlihat kesal dan marah. 

"Ga bisa" respon singkat dari perempuan tua yang sudah kesal. 

"Bu plis Bu, dateng ya Bu" 

Gadis kecil itu mengejar perempuan tua sampai ke kamar dan pada akhirnya perempuan tua itu terjatuh karena tersandung oleh tas sekolah gadis kecil itu. Perempuan tua itu terlihat sudah marah dan kesal sekali.

"Kamu nih bisa ga sih ga usah bikin ibu marah dan kesal dulu sehari, ibu udah cape sama urusan rumah, kamu lagi gajelas ada aja masalah yang mengharuskan ibu ke sekolah" ucap perempuan tua yang menusuk hati seorang gadis kecil. 

Gadis kecil itu pun lari masuk ke dalam kamar nya dan ia hanya bisa menangis dan memikirkan sebegitu salah nya ia di mata orang tua nya. Tidak terasa gadis kecil itu pun langsung terlelap terbawa mimpi sampai tidak sadar bahwa matahari sudah mulai muncul lagi. 

Terlihat seperti ada yang aneh dari perempuan tua itu karna matahari baru saja muncul perempuan tua itu sudah menghampiri kamar gadis kecil yang biasanya menghampiri saja tidak pernah dilakukan oleh nya. 

"Tok tok tok.. Ayo bangun masa sudah gadis bangun nya siang sih" ucap perempuan tua kepada gadis kecil nya. 

"Seperti tidak ada orang di dalam" perempuan tua itu membuka pintu kamar gadis nya. 

Dan benar saja gadis kecil itu sudah tidak ada di kamar nya. Perempuan tua itu hanya berfikir bahwa gadis kecil nya sudah berangkat ke sekolah. Tetapi itu sangat aneh karena tidak biasanya gadis kecil itu tidak meminta izin apalagi langsung berangkat ke sekolah. 

Sesampainya di sekolah.. 

"Duhh brosur lomba kemarin ada di mading lantai berapa ya" ucap gadis kecil itu dan terlihat sangat cemas.

Ternyata gadis kecil itu sudah berangkat dari pagi karena ingin mengambil brosur lomba yang ia liat kemarin di mading sekolah. Tetapi saat gadis kecil itu melihat ke mading yang ia lihat kemarin,brosur nya sudah tidak ada, gadis kecil itu tidak henti mencari brosur tersebut sampai ke lantai atas. 

"Oke sekarang satu mading lagi yang belum aku kunjungi, semoga brosur itu ada di mading itu deh" ucap gadis kecil sambil tergesa-gesa lari ke lantai paling atas. 

Dan untungnya brosur tersebut masih tersisa di mading lantai atas. Dan itu juga brosur satusatunya yang masih tersisa untuk pendaftaran nya. Gadis kecil itu merasa lelah dan perjuangannya tidak sia-sia.

"Huftt untung saja brosur nya masih tersisa, ini kesempatan yang bagus nih buat aku bisa ngebanggain orang tua ku" ucap sebuah harapan dari seorang gadis kecil itu. 

Beberapa jam kemudian gadis kecil itu dipanggil ke ruang BK yang ternyata perempuan tua itu menghampiri gadis kecil nya sampai ke sekolah. 

"Loh ibu? Bukannya ibu ga bisa dateng ke sekolah?" ucap gadis kecil itu 

"Udah diem ga usah banyak omong kamu, jadi ibu harus apa disini?" ucap perempuan tua yang terlihat tetap kesal kepada gadis kecil nya. 

"Ibu tunggu disini saja nanti guru ku juga keluar ko" ucap gadis kecil itu. 

Selang beberapa waktu perempuan tua nya pun keluar dari ruang BK dan menghampiri gadis kecil nya. Terlihat perempuan tua itu ingin memarahi gadis kecilnya. 

"Kamu tadi pagi kemana? Kenapa pagi-pagi buta kamu sudah tidak ada di kamar" ucap perempuan tua itu. 

"eeeumm... Aku tadi pagi langsung berangkat karna aku mau ambil sesuatu Bu" ucap gadis kecil yang terbata-bata. 

Gadis kecil itu merahasiakan soal brosur dan lomba yang akan ia ikuti karna nantinya perempuan tua itu pasti tidak percaya apa yang dikatakan gadis kecil itu. 

"Sudahlah jangan banyak bicara, ibu mau langsung pulang saja" ucap perempuan tua itu. 

"Iya Bu hati-hati pulang nya Bu" respon dari gadis kecil nya. 

"Waktu jam pulang untuk kelas 10" bel pulang sekolah pun berbunyi.

"Aku harus buru-buru nih daftar ke panitia lomba nya" ucap gadis kecil itu. 

Tidak terasa ternyata waktu pendaftaran nya itu sangat lama sampai waktu sudah menunjukkan pukul 17.30. Ia sangat cemas dan khawatir, takut terjadi perang suara lagi dirumah. Setelah selesai pendaftaran nya dan gadis kecil itu mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba itu, ia pun langsung bergegas untuk pulang kerumah. Dan benar saja perempuan tua itu sudah menunggu di depan pintu rumah. 

"Bagus yaa diulang lagi pulang sore nya" ucap perempuan tua dan terlihat sangat marah.

"Eeeuummm Bu aku pulang sore karena..." 

"Sudahlah ibu ga mau denger lagi alasan kamu, cepat ganti baju dan masuk ke dalam kamar" perempuan tua itu memotong perkataan gadis kecil nya yang berusaha menjelaskan alasannya.

Gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamar dan mengeluh dengan apa yang sedang dihadapi nya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 tapi lampu kamar gadis kecil itu masih terlihat menyala. 

"Duh aku harus selesain sekarang nih apalagi deadline nya besok" ucap gadis kecil itu sambil menulis diatas kertas putih. 

Keesokan harinya setelah gadis kecil itu memakan sarapannya ia langsung bergegas pergi ke sekolah. 

"Bu aku berangkat" ucap gadis kecil. 

"Iya, jangan lupa pulang sore lagi ya" sindiran dari perempuan tua karna dari kemarin gadisnya itu selalu pulang sore. 

"Heum engga lagi ko Bu" ucap gadis kecil itu. 

Setelah sampai di sekolah gadis kecil itu tidak langsung memasuki kelas nya melainkan ia pergi ke ruang panitia lomba yang bahkan ia bukan panitia atau orang terpenting dari ruangan itu. Ternyata ia mengumpulkan hasil karya cerpen yang dibuatnya semalaman kepada panitia lomba tersebut. 

Jam istirahat pun tiba dan ternyata pemenang lomba cerpen diumumkan di jam istirahat di lapangan sekolah. 

"Oke terimakasih kepada siswa/siswi yang sudah mengikuti lomba ini, semoga hasil nya sesuai dengan ekspektasi kalian ya" ucap panitia lomba.

Dan entah lah apa yang dikatakan panitia lomba tersebut tetapi gadis kecil ini langsung menangis dan segera menelepon perempuan tua yang sedang berada dirumah. Tetapi tidak tahu ada kendala apa sehingga ia tidak bisa menelepon perempuan tua itu.

Kejadian yang tidak terduga, ternyata gadis kecil ini yang memenangkan lomba tersebut dan mendapatkan uang jutaan rupiah. 

Waktu pulang pun tiba dan ia langsung bergegas untuk pulang kerumah untuk memberi tahu kabar bahagia ini. 

"Bu, ibu harus lihat ini" ucap gadis kecil seraya membawa piagam kemenangan nya. 

"Apa ini? Surat dari sekolah lagi? Ibu udah ga mau liat surat ini" ucap perempuan tua yang salah faham. 

"Bu, ibu kenapa sih selalu saja menganggap apa yang aku lakukan ini salah di mata ibu" ucap gadis kecil itu yang sudah kesal juga. 

Beberapa jam kemudian perempuan tua itu di telpon oleh guru yang ada di sekolah gadis kecilnya itu kemarin. 

(Nada dering telpon) 

"Duh ini pasti ada masalah lagi nih" 

"Hallo Bu saya dari guru sekolah anak ibu ingin memberikan ucapan selamat kepada anak ibu karena sudah memenangkan lomba cerpen yang kami buat di sekolah" 

"Hallo iya Bu,, terimakasih bu atas ucapannya" ucap perempuan tua. 

"Iya sama-sama Bu, tadi saya ingin mengucapkan secara langsung tetapi anak ibu langsung buru-buru pulang kerumah karna ingin menyampaikan kemenangannya itu ke orang tua nya, maaf bu sebelumnya saya pernah mendengar tentang keluarga ibu, saran saya janganlah pernah kita sebagai manusia selalu melihat kenakalan atau kekurangan dari seseorang saja bu, karna di setiap kekurangan pasti saja ada kelebihan" 

Perempuan tua itu langsung mengakhiri pembicaraan nya dan menenangkan diri di ruang tamu. Ternyata setelah perdebatan setelah pulang sekolah tadi gadis kecil itu meninggalkan piagam penghargaan nya di ruang tamu dan kejadian tidak disangka terjadi, perempuan tua itu menangis melihat piagam penghargaan tersebut. Ia menghampiri kamar gadis kecil nya itu seraya memeluk dan tidak henti menangis.

"Maafin ibu ya nak, ibu dari kemarin ibu tidak tahu kalau kamu selalu pulang sore karena mengikuti lomba cerpen ini" ucap perempuan tua seraya merasa bersalah setelah apa yang terjadi. 

"Heumm,,,sekarang ibu sudah tahu alasan aku kan kalau aku pulang sore karena apa? Aku juga ga senakal yang ibu kira bu" 

"Kenapa kamu ga bilang ke ibu kalau kamu ikut lomba ini?" ucap perempuan tua. 

"Aku takut Bu, takut mengatakan ini ke ibu, karena ibu kan selalu nilai apa yang aku lakukan itu salah di mata ibu" ucap gadis kecil itu sambil menangis. 

"Maafin ibu ya nak kalau ibu tau itu semua ibu akan selalu mendengarkan apa kata kamu" rasa bersalah perempuan tua itu pun muncul. 

Setelah mereka berpelukan dan saling meminta maaf mereka pun merencakan untuk merayakan itu semua dengan pergi ke tempat wisata di luar kota. Dan kabarnya keluarga mereka sekarang hidup harmonis dan menjadi keluarga yang sempurna.