[DILEMA] - Can Be Owned Or Not "Sebuah Perjalanan Tentang Rasa yang Diam-diam Tumbuh"
Judul: Can Be Owned Or Not
Penulis: Tazkiyatul Fitriya
Bab 1 — Pertama Kali
Aku nggak nyangka kalau perasaan ini bisa muncul cuma dari satu momen singkat. Nggak ada sapaan, nggak ada basa-basi. Hanya tatapan diam dari bangku GOR, saat aku melihat dia datang malam itu.
Waktu itu hari Jumat, sehabis magrib. Langit sudah gelap, dan lampu-lampu GOR satu per satu mulai menyala. Aku duduk di bangku pinggir lapangan, belum tahu siapa yang bakal datang, siapa yang bakal main, atau siapa yang akan sekadar lewat.
Lalu dia datang. Dengan raket di tangan dan langkah yang tenang. Dia belum salat; aku tahu itu karena begitu sampai, dia langsung ambil wudhu dan salat di pojokan. Entah kenapa, caranya menjaga waktu ibadah bikin aku tertarik—padahal aku bahkan belum tahu namanya.
Sampai akhirnya, aku lihat nama itu tertulis di bajunya: Elhan.
Sederhana. Tapi cukup buat bikin aku nyimpen nama itu dalam kepala.
Latihan malam itu berjalan biasa aja, sampai tiba saatnya giliran main ganda campuran. Waktu itu, cuma aku dan Alya yang belum turun main. Coach memanggil kami dan bilang, “Nara sama Elhan, ya. Alya sama Gio.”
Aku dan Elhan… bahkan belum pernah ngobrol sebelumnya.
Permainan dimulai dengan canggung. Setiap kali shuttlecock jatuh di antara kami, yang keluar cuma kata "maaf” atau “makasih.” Nggak lebih. Tapi justru di situlah rasanya muncul. Walaupun permainan kami nggak terlalu kompak, dan walaupun akhirnya kalah, aku pulang dengan hati yang hangat.
Bukan karena menang.
Tapi karena malam itu, aku akhirnya tahu—aku tertarik sama seseorang bernama Elhan.
Bab 2 — Saat Semua Rasa Mulai Tumbuh
Hari ulang tahunku yang awalnya kuanggap akan berjalan biasa saja, ternyata menyimpan kejutan kecil. Siang itu, sekolah kami mengikuti pertandingan persahabatan badminton melawan salah satu SMA lain di sebuah gedung olahraga. Aku terkejut ketika melihat Elhan datang bersama Rafan. Tanpa sepengetahuanku, ternyata Elhan ikut mendaftarkan dirinya untuk bertanding.
Dari kejauhan, aku hanya bisa mengamati sosoknya. Ia tampak sama seperti sebelumnya—tenang, kalem, dan entah mengapa tetap mampu membuat perasaanku bergetar.
Usai sesi foto-foto, hanya Elhan dan Rafan yang belum pulang. Saat itu, aku masih berada di lokasi bersama tiga temanku: Kezia, Livia, dan Salma. Elhan dan Rafan memilih menunggu kami yang masih bergantian ke kamar mandi. Di sela waktu itu, aku sempat mengobrol sebentar dengan Elhan. Meskipun canggung, percakapan itu sudah cukup membuatku bersyukur. Untuk pertama kalinya aku berbicara langsung dengannya—dan sebagai bonus kecil yang diam-diam membahagiakan, kami saling tos.
Sejak hari itu, aku mulai berani mengakui perasaanku sendiri. Aku ingin mencoba menyukai Elhan lebih dalam. Meski belum cukup percaya diri untuk menghubunginya secara langsung, aku mencari cara lain. Aku mulai menghubungi teman dekatnya, Alya, dan menanyakan kabar Elhan melalui dirinya. Kadang aku juga meminta foto Elhan di sekolah, hanya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja di sana.
Setiap hari aku menitipkan ucapan semangat melalui Alya. Tak pernah absen. Dalam diam, aku berharap semangat itu benar-benar sampai dan bisa membuat harinya terasa lebih ringan. Meskipun aku bukani siapa-siapa baginya, aku ingin menjadi seseorang yang diam-diam mendoakan dan mendukungnya.
Rasa penasaranku tumbuh semakin besar. Aku memberanikan diri meminjam akun Instagram seorang temanku dan mengikuti akun Elhan. Namun, seperti yang bisa kuduga, tidak ada balasan. Ia mungkin merasa bingung dengan akun asing itu—wajar saja, kami belum saling mengenal lebih dekat.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti akun Elhan menggunakan akun keduaku yang memakai nama asliku. Harapanku sederhana: semoga ia bersedia menerima kehadiranku, walau hanya dalam dunia maya. Dan syukurlah, Elhan mem-follow back. Malam harinya, aku memberanikan diri mengirim pesan langsung melalui Instagram. Tentu saja, aku merasa sangat gugup. Namun tak kusangka, ia membalas. Sejak saat itu, akun temanku tak lagi kugunakan. Karena akhirnya, aku bisa berinteraksi langsung dengannya—meski masih terbata-bata, tapi rasanya seperti membuka pintu kesesungguhnya kedekatan yang sesungguhnya.
Bab 3 — Belajar Melepaskan, Tapi Tak Sepenuhnya Pergi
Tanpa terasa, hampir satu tahun sudah aku menyimpan perasaan ini untuk Elhan. Rasanya seperti naik turun di dalam hati sendiri. Ada hari-hari di mana aku begitu semangat, ada pula saat-saat di mana aku ingin menyerah. Aku pernah berpikir untuk berhenti berjuang—karena aku lelah. Tapi aku yakin, selalu ada jalan terbaik yang Allah siapkan.
Tepat pada 1 Januari 2024, aku memutuskan satu hal besar: berhenti menyukai Elhan.
Bukan berarti sepenuhnya pergi atau memutuskan hubungan. Tapi sejak hari itu, aku mulai menjaga jarak. Aku berhenti memulai percakapan lebih dulu, berharap—meski samar—Elhan yang akan menghubungiku lebih dulu. Tapi harapan itu hanya tinggal harapan. Tak pernah terjadi. Nyatanya, selama ini aku selalu menjadi pihak yang memulai. Diam-diam, aku menyimpan kecewa.
Masuk bulan Februari, perasaanku semakin rumit. Ada seseorang yang aku tahu juga menyukai Elhan. Dia bahkan begitu terang-terangan, sampai membuat cerita-cerita aneh seolah ingin membuatku iri. Aku tak mengerti, untuk apa?
Saat itu, aku tak tahu bagaimana perasaan Elhan padaku—begitu pula perasaannya terhadap Alea. Tapi aku selalu berharap satu hal: semoga kami tidak kehilangan kontak, tidak kehilangan tatapan, dan tetap bisa berbicara seperti teman pada umumnya.
Jujur saja, dulu Elhan begitu cuek. Aku bahkan lupa bagaimana awal kedekatan kami terjadi. Tapi satu hal yang jelas, sekarang aku bersyukur. Setidaknya Elhan tidak lagi bersikap seperti aku tak ada. Ia mulai bisa menerima kehadiranku.
Mungkin karena aku mulai menganggapnya sebagai teman. Aku sadar, saat aku berhenti menggantungkan harapan dan mulai melihatnya sebagai teman, hubungan kami justru terasa lebih dekat.
Meski begitu, aku tetap bingung. Sikap Elhan selalu berbeda ketika Alea ada dan saat dia tidak ada. Kalau Alea sedang bersamanya, Elhan tampak menjauhiku. Tapi ketika Alea tidak ada, Elhan justru mendekat. Aku tak tahu maksudnya apa, dan aku tidak berani menanyakannya.
Pernah suatu kali aku melihat mereka berdua di kantin. Pernah juga aku mendengar mereka hendak pulang bersama. Saat itu, aku hanya bisa diam. Aku ingin ada di posisi itu, tapi aku tidak bisa. Jujur, aku bahkan canggung saat ingin ngobrol dengan Elhan. Aku takut salah bicara dan justru membuatnya menjauh lagi. Karena itu, sekarang aku hanya membalas sapaannya jika ia yang memulai lebih dulu.
Namun waktu berjalan, dan komunikasi kami mulai membaik. Ada satu kejadian kecil yang begitu membekas dalam ingatanku. Waktu itu aku sedang tidak enak badan, tapi tetap datang latihan badminton. Aku membawa jus sendiri. Saat akan jadi wasit, jus itu jatuh—mungkin karena aku terlalu lemas. Aku pikir tak akan ada yang peduli, tak akan ada yang akan mengambilkannya.
Tapi ternyata... Elhan yang melangkah dan mengambilkan minumanku.
Padahal ada orang lain yang lebih dekat. Tapi justru dia, yang berada cukup jauh, yang melangkah dan menunjukkan perhatian kecil itu. Aku sempat terdiam. Dalam hati, aku sedikit terbawa perasaan. Tapi aku menahan ekspresi itu—karena aku tidak ingin terlihat seperti orang yang masih menyukainya.
Sebenarnya, alasanku menjaga jarak seperti ini bukan karena aku berhenti menyukai Elhan. Tapi karena aku menghargai perasaan orang lain yang juga menyukainya.
Aku tidak ingin membuat suasana jadi tidak nyaman. Aku tidak ingin memperumit situasi.
Tapi satu hal yang pasti: aku masih menyayangi Elhan, meski dalam diam.
Bab 4 — Di Antara Taman, Kertas Foto, dan Sinyal Perhatian
Pagi itu, sinar matahari menembus celah daun-daun di sepanjang jalan kecil yang lengang. Aku duduk di jok belakang motor Elhan, masih mengenakan jaket olahraga tipis usai jogging bareng dia dan Rayan.
Udara masih lembap, tapi ada sesuatu dalam suasana yang membuat jantungku terasa lebih ringan— dan sekaligus berdebar lebih cepat dari biasanya.
Tanpa banyak basa-basi, Elhan mengarahkan motor ke taman kecil tak jauh dari rumahku. Katanya, ingin ngobrol.
Aku sudah bisa menebak ini akan jadi percakapan yang dalam. Dan sebenarnya… aku memang membutuhkannya.
Beberapa malam sebelumnya, aku menangis sendirian. Bukan hanya karena capek, tapi juga karena bingung akan perasaan sendiri. Tentang apa yang Alea katakan—tentang “takut kalau Elhan nembak aku.” Dan tentang Elhan sendiri, yang kadang membuatku merasa berarti, tapi juga sulit ditebak.
Saat kami duduk berdua di bangku taman, Elhan membuka percakapan.
“Semalam kenapa sampai nangis-nangis, emangnya?”
Aku menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Hayo, tebak kenapa. Tapi aku udah gapapa kok, aman aja.”
Tapi Elhan masih melihatku dengan tatapan yang serius, meski tetap lembut.
“Masih kepikiran yang kemarin?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya… masih kepikiran dikit sih. Tapi beneran, aku udah aman.”
Aku tak bisa menjelaskan semuanya. Tentang rasa campur aduk saat Alea mengulang kata “cemburu” tiga kali. Tentang kalimat-kalimat yang membuatku bertanya: apakah aku punya tempat di hatinya, atau hanya numpang lewat sebentar? Tapi ajaibnya, cukup duduk berdua di taman sederhana ini, rasanya seolah dimengerti—tanpa harus banyak menjelaskan. Seperti didengarkan tanpa harus menjelaskane terlalu banyak.
Beberapa hari setelahnya, kami pergi untuk pertama kali-nya ngedate hunting mobil dan makan siang bersama. Kami tidak kepikiran untuk ada photobooth berdua. Tapi di samping tempat makan itu ada photobooth akhirnya aku yang mengajaknya. Dan akhirnya dia yang membayar. Katanya,
"Lo udah bayarin makan, jadi ini gantian gue.”
Harganya cuma empat puluh ribu. Tapi bagiku, nilainya lebih dari itu.
Waktu hasil fotonya keluar, aku bagi dua: aku pegang sisi kanan, dia sisi kiri. Tapi Elhan sempat menolak.
“Lo aja yang pegang. Kan lo yang pengen photobooth.”
Aku sempat kesal. Tapi akhirnya dia bawa juga.
Dan beberapa hari kemudian, aku tahu… dia menyimpannya.
Dilipat rapi, lalu diselipkan di dekat meja belajarnya. Ezra yang cerita—katanya fotonya masih ada di sana, terselip di antara tumpukan buku.
Aku tersenyum. Kecil, tapi tulus.
Mungkin itu hal sepele. Tapi untukku, itu seperti sinyal kecil: bahwa kenangan itu juga berarti untuknya.
Lalu datang malam prom night, after wisuda.
Handphone-ku hampir habis baterai, jadi aku meminjam Handphone Elhan untuk pesan ojek. Tanpa ragu, dia serahkan ponselnya. Sambil berjalan dari lantai empat menuju pintu depan gedung, dia menemani. Tak banyak bicara, tapi langkahnya selalu selaras denganku.
Dan saat melihat Mama dan tanteku sudah menunggu di luar, Elhan langsung menyalami mereka.
Aku berdiri di sampingnya, diam-diam menyimpan rasa syukur dalam hati.
Karena hari itu, untuk pertama kalinya… aku merasa punya tempat.
Bukan hanya di dekatnya, tapi juga di sisinya.
Bab 5 — Hari Ketika Segalanya Menemukan Jawabannya
Delapan Juni.
Hari ketika langit Jakarta begitu cerah seolah ikut merayakan sesuatu—sesuatu yang mungkin tak banyak orang tahu, tapi begitu berarti untukku.
Itu kali kedua kami pergi berdua.
Rencana kami sederhana: hunting mobil seperti biasa, mengamati jalanan ibu kota sambil bercanda,
mampir ke taman dekat Blok M, lalu ke Arborea Cafe. Tapi siapa sangka, hari itu jadi titik balik—hari ketika semuanya berubah.
Semuanya dimulai dari kebiasaan kecil kami: memperhatikan mobil-mobil keren di sepanjang jalan. Tapi hari itu terasa berbeda. Elhan lebih banyak senyum, lebih banyak cerita. Aku hanya mendengarkan, tapi dalam diam aku merasakan... dia sedang menyimpan sesuatu.
Di taman dekat Blok M, kami duduk sebentar, saling membahas hal random. Tak ada romantisme berlebihan, tak ada musik latar. Tapi hatiku berdebar—karena ada sesuatu di udara yang tak bisa dijelaskan.
Sampai akhirnya kami tiba di Arborea.
Tempatnya sejuk, dikelilingi pepohonan tinggi, dan suara dedaunan yang bergesekan seolah ikut merestui langkah kami. Kami duduk di bangku kayu, dan saat itu kami bertukar kado sambil menunggu makanan kita tiba. Dimulai dari Elhan yang membuka isi kado dariku lebih dulu, dan saatnya aku yang menerima kotaknya Elhan. Tanganku gemetar sedikit, entah karena gugup atau bahagia yang belumu kutahu bentuknya.
Di dalam kotak dari Elhan, ada benda kecil yang sudah lama aku incar, dan… selembar kertas yang terlipat rapi.
Aku membuka lipatannya perlahan.
Tulisannya tidak banyak. Hanya satu kalimat yang membuat dadaku berhenti berdetak sejenak.
“I have a crush on you.”
Tanganku masih gemetar saat menatapnya.
Aku menoleh ke arahnya, mencari kejelasan dalam diam. Tapi Elhan hanya tersenyum kecil, sedikit kikuk,
lalu berkata:
“Gue suka sama lo dari lama. Tapi gue bingung cara bilangnya gimana…”
Aku tidak bisa menahan senyum. Dalam kepalaku, semua ingatan berputar cepat—dari pertama kali kami main ganda campuran dengan canggung, saat aku kirim semangat lewat Alya, saat dia ambilkanu jusku, hingga photobooth kecil yang kini terselip di mejanya.
Dan kini, semua itu menemukan maknanya.
Bahwa semua rasa yang kutahan dan kujaga… ternyata nggak pernah bertepuk sebelah tangan.
Hari itu, kami pulang dengan hati yang sama-sama hangat. Bukan hanya karena tukar kado, bukan hanya karena kalimat sederhana di atas kertas. Tapi karena akhirnya, kami berdua sama-sama tahu:
perasaan itu saling bertemu.
Kami tidak buru-buru menyebut diri sebagai pasangan. Tapi sejak hari itu, semuanya terasa berbeda.
Lebih ringan, lebih jujur, dan lebih membahagiakan.
8 Juni.
Hari ketika seseorang yang dulu hanya kutatap dari bangku GOR… akhirnya menggenggam tanganku— bukan hanya secara harfiah, tapi juga dalam cerita yang kini kami bangun berdua.
Epilog — Untuk Rasa yang Akhirnya Berani Pulang
Tidak semua perasaan harus diperjuangkan dengan gegap gempita.
Kadang, rasa paling tulus justru tumbuh dalam diam—menunggu waktu yang tepat untuk disampaikan, dan hati yang siap untuk menerima.
Aku tidak pernah menyangka, dari tatapan singkat di bangku GOR…
Perasaan itu akan tumbuh perlahan, menyelip di sela waktu, menyapa lewat perhatian kecil, dan akhirnya berpulang lewat secarik surat di Arborea.
Aku dan Elhan tidak memulai dengan janji besar atau kata-kata indah.
Kami memulai dengan keberanian kecil: untuk jujur, untuk hadir, dan untuk saling melihat bukan hanya
sebagai teman, tapi sebagai dua orang yang ingin melangkah bersama.
Dan jika nanti orang bertanya,
“Can be owned or not?”
Maka aku akan tersenyum, karena aku tahu jawabannya.
Bukan tentang memiliki, tapi tentang saling memilih.

Posting Komentar
0 Komentar