[DILEMA] - Ibu, Abu, Abadi

 



Judul : Ibu, Abu, Abadi 
Oleh : Tiara Adelia Listiany 


Malam itu pukul sembilan bagian barat, aku menjamu tamu yang datang membawa perintah dari Yang Paling Empunya.

Jamuan yang tak kita tahu akan mendatangkan lalu,

Menyisakan abu di tungku,

Merawat setiap jengkal benang-benang putus yang tak sempat kutitipkan pada jemarimu,

Melepaskan doa-doa yang masih mengepul bersama uap nasi yang tanak lalu biru


Pulang, pulang, hendaknya ia berpulang

Lebih baik daripada sengkarut,

Lebih indah daripada carut-marut,

“Bukankah putriku enggan menadah mangkut kemulut?” lalu terhembus tak berpijak menyisakan sajak berkarat terlempar sedu-kayan; tunggu, tunggu, hendaknya kau menunggu.


Bersaksilah!

Bahwa aku masih hidup, merawat sayap-sayap patah untuk dilangitkan,

Bisikkanlah!

Bahwa aku masih hidup, menjerat kalbu pada perut bumi untuk dilarungkan,

Berlabuhlah!

Pada Yang Empunya, merajut butir buih belaian samudera busung bumantara dihikayatkan,


Surau sembilu sendu,

Iris senyapku, iris sedu-sedakku.

Jentera memilin kelindan kafan— Ibuku abu abadi berjangkar bagu di Banda berkabung.


Posting Komentar

0 Komentar