[DILEMA] - Tinggal Meninggal
Judul : Tinggal Meninggal
Oleh : Penasastra
Sekarang pejamkan mata dan sebut, “Aku sudah mati!”
Bayangkan perlahan dunia ambil semua kepunyaan diri, renggut semua hari yang
sudah disusun dalam catatan pengingat handphone. Bayangkan sesak yang datang
karena Tuhan sudah ambil napas yang selama ini dianggap remeh. Bayangkan gelap
yang temani pandangan karena Tuhan berhasil renggut warna dalam hidup bebal ini.
Bayangkan kaku yang orang-orang itu beri karena tanah jadi satu tempat kamu
pulang. Bayangkan rentetan kisah agama yang hanya didapat dalam kitab terjadi
depan mata, di luar akal manusiaㅡ tentu sesiapapun tak dapat beri gambaran tinjau.
Nyatanya mati memang menakutkan. Mati itu menakutkan.
Mati itu sungguh menakutkan.
Nyatanya, harus mati dulu baru orang beri empati.
Kalau dalam film besar yang hari kemarin muncul, mereka bilang “Masa harus ada
yang meninggal dulu baru ditemenin?”
Padahal membayangkan mati pun aku gemetar, tapi empati yang ditawarkan jujur
menggiurkan.
Pathetic. Bagaimana bisa aku harap empati datang dari orang-orang ketika aku
meninggal? Kenapa harus membayangkan sedih yang datang dari mereka ketika aku
meninggal? Kenapa aku berharap tangis tumpah di pemakaman? Kenapa? Kenapa
semua itu terpikirkan seakan ada harap yang menyempil dalam kematian, kenapa ada
rasa harap akan empati dalam diriku?
Kenapa harus kematian?
“Tinggal meninggal saja! Nanti orang beri empati”

Posting Komentar
0 Komentar