[DILEMA] - Kartini Menolak Diperingati
Judul : Kartini Menolak Diperingati
Oleh : Zaka Nuradani Alghifari
Hari Kartini di negeri ini terlalu sering jadi panggung yang jinak kebaya dililitkan, kata-kata dimaniskan, sejarah dipoles agar terasa nyaman. Kita merayakan Raden Ajeng Kartini seolah ia telah selesai, seolah gagasannya bisa dilipat rapi bersama tradisi. Padahal Kartini menulis bukan untuk ditenangkan, tapi untuk mengusik.
Sementara itu, di Palestina, perempuan tak punya kemewahan untuk meromantisasi perjuangan. Mereka tidak sedang memperingati mereka sedang bertahan. Di antara reruntuhan, mereka merawat hidup dengan keberanian yang tak sempat diberi nama. Jika Kartini menulis dengan tinta, mereka menulis dengan luka dan kehilangan.
Lalu kita di Indonesia berdiri di persimpangan yang sering tak terasa. Kita tidak hidup di bawah bom, tapi bukan berarti merdeka. Penindasan di sini lebih halus: norma yang membungkam, standar yang mengikat, ekspektasi yang menyempitkan pilihan sambil disebut “kodrat.”
Momen kritis itu justru hadir dalam keseharian:
ketika perempuan diukur dari kepantasan, bukan kebebasan;
ketika suara dianggap berlebihan hanya karena ia lantang;
ketika ruang terbuka, tapi penuh penghakiman;
ketika pendidikan tinggi ada, tapi pilihan hidup tetap dinegosiasikan.
Kita hidup dalam ilusi kemajuan. Tidak lagi dipingit secara fisik, tapi dipingit oleh ekspektasi. Tidak dilarang bicara, tapi diajarkan untuk diam agar tidak merepotkan. Dan yang paling berbahaya kita mulai menganggapnya wajar.
Maka pertanyaannya tajam: perempuan Indonesia hari ini benar-benar merdeka, atau hanya lebih rapi dalam berkompromi? Kita lantang melihat ketidakadilan yang jauh, tapi ragu melawan yang dekat. Memperingati Kartini tanpa kritik hanyalah ritual kosong. Kita menyebut namanya, tapi menolak kegelisahannya.
Di sana, perempuan berjuang untuk bertahan hidup. Di sini, kita diuji: berani atau tidak untuk benar-benar hidup tanpa tunduk pada batasan yang tak adil.
Viva La Palestina.

Posting Komentar
0 Komentar