[DILEMA] - Rupiah yang Gemetar di Ujung Doa

        

       

Judul : Rupiah yang Gemetar di Ujung Doa

Oleh : Alyaa Nadhiifah Wibowo


Rupiah itu…

dulu berjalan tegak di pasar-pasar kecil,

menyapa pedagang sayur,

menghidupi tangan buruh

yang pulang membawa peluh

dan sedikit harapan.


Kini ia seperti daun tua

yang gemetar diterpa angin dunia.

Nilainya jatuh

bahkan sebelum rakyat sempat berdiri utuh.


Di layar berita,

angka-angka dibacakan seperti cuaca biasa:

kurs melemah,

utang meningkat,

impor melonjak,

harga pangan makin menggigit kehidupan.


Namun bagi rakyat kecil,

angka bukan sekadar data ekonomi.

Ia menjelma kecemasan

yang duduk diam di meja makan,

menjadi daftar kebutuhan

yang pelan-pelan tak mampu dijangkau.


Betapa ironis negeri ini…

tanahnya subur,

lautnya luas,

hutannya pernah disebut paru-paru dunia,

namun rakyatnya tetap akrab

dengan antrean bantuan

dan harga-harga yang tak mengenal belas kasihan.


“Ekonomi masih terkendali,”

kata mereka dari gedung-gedung tinggi.

Tetapi di bawah langit kota,

ada napas-napas lelah

yang tetap bertahan hidup

di tengah keadaan yang kian menyesakkan.


Rupiah melemah, katanya.

Tetapi yang paling melemah

sering kali bukan mata uang itu sendiri…

melainkan kepercayaan rakyat

pada janji-janji yang terlalu pandai berpidato.


Kekayaan alam dikeruk,

utang ditumpuk,

pajak ditekan,

namun kesejahteraan

selalu datang terlambat

bagi mereka yang paling membutuhkan.


Rupiah akhirnya bukan sekadar mata uang.

Ia adalah cermin

tentang negeri yang kadang lupa

bahwa ekonomi seharusnya menjaga manusia,

bukan sekadar menjaga

grafik pertumbuhan.


Dan di tempat berserah,

doa-doa lirih selalu berlayar ke langit…

sebab ketika rupiah melemah,

yang pertama kali retak

selalu hati orang kecil

yang hidup di antara sabar

dan ketidakpastian.


Posting Komentar

0 Komentar