[DILEMA] - Kami Generasi Terburuk Sastra Indonesia
Oleh: Zaka Nuradani Alghifari
“Seni telah mati.
Sastra telah mati.
Kami generasi terburuk sastra Indonesia.
Intelektual tanpa hasrat pemberontakan adalah perpanjangan tangan negara.”
Kalimat itu diucapkan oleh seorang pemuda di Kecamatan Wirobrajan yang mendapat tindakan
represif saat Lebaran Seni.
Sejak mendengar kalimat itu, rasanya ia tidak benar-benar pergi. Ia terus berputar di kepala,
mengendap di dalam hati, lalu tinggal cukup lama sampai membuatku sulit merasa nyaman
dalam situasi seperti ini
Perasaan itu datang lagi ketika mendengar cerita tentang mereka yang harus melewati jalan yang
tidak mulus, menyeberangi jembatan yang nyaris kehilangan fungsi, lalu tiba di sekolah demi
beberapa suap Makan Bergizi Gratis.
Lalu kepalaku mulai dipenuhi pertanyaan.
Kenapa tidak adajalan yang mulus?
Kenapa tidak ada bus sekolah gratis?
Kenapa jembatan yang digunakan tetap rapuh, seolah keselamatan hanyalah urusan
keberuntungan?
Atau jangan-jangan semua ini memang sedang dipertukarkan agar seseorang di kursi publik bisa
tersenyum dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi kepalaku, sepenuh rekening mantan Kepala Badan
Gizi Nasional yang korupsi tidak tahu malu.
Empat bulan lalu, adikku yang masih kelas 6 SD bilang seperti ini sepulang sekolah,
"Makanannya nggak enak, baunya aneh. Aku nggak makan."
Awalnya aku pikir itu cuma hari yang buruk. Mungkin hanya kesalahan teknis. Hal yang masih
bisa dimaklumi.
Tapi kalimat itu datang lagi.
Besoknya.
Lusa.
Lalu berkali-kali.
Dan aku mulai bertanya:
Kalau manusia belajar dari kesalahan, kenapa sistem sering terlihat tidak?
Ini Makan Bergizi Gratis, atau sekadar makan gratis yang kehilangan makna?
Kuliahku mahal.
Adikku mendapat makanan yang bahkan tidak ingin ia habiskan.
Ayahku mengeluh saat melihat harga Pertamax.
Lalu siapa yang sebenarnya sedang didengar?
Entahlah.
Tapi kalau keresahan dianggap berlebihan dan kritik dianggap sebagai bentuk tidak tahu terima
kasih, mungkin yang tersisa hanya keyakinan bahwa masih ada yang mendengar kami meski
bukan mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Hanya Tuhan yang mendengar kami.
Dan mungkin itu sebabnya seni belum benar-benar mati.
Selama masih ada yang gelisah, masih ada yang menulis.
Semoga kita hidup seribu tahun lagi.

Posting Komentar
0 Komentar