[DILEMA] - Transformasi Cita-Cita
Judul : Transformasi Cita-Cita
Oleh : SN Aini
Okta menatap layar tabletnya, di mana deretan angka fungsi integral yang biasanya terasa menenangkan kini tampak seperti kawat berduri. Di samping coretan rumusnya, sebuah tajuk berita berkedip "Nadiem Dituntut 18 Tahun".
Ia teringat beberapa tahun lalu, saat ia dengan berapi-api bicara di depan teman-temannya tentang ambisinya. "Aku ingin jadi Menteri Pendidikan," ucapnya kala itu dengan binar mata seorang pemimpi yang percaya bahwa logika matematika bisa membereskan kekacauan birokrasi. Baginya, memperbaiki bangsa hanyalah soal mencari variabel yang tepat dan menyederhanakan persamaan yang rumit.
Namun hari ini, Okta menemukan sebuah anomali dalam kalkulasi hukum negaranya. la mulai menghitung di secarik kertas. Jika satu kebijakan yang niatnya memajukan teknologi di sekolah-sekolah dihargai dengan 18 tahun penjara, maka "biaya" untuk menjadi pintar dan peduli di negeri ini terlalu mahal. Inflasinya gila-gilaan.
"Masih mau jadi Menteri, Ta?" tanya sebuah suara kecil di kepalanya, bernada sarkas. Okta terdiam. Ia membayangkan dirinya di masa depan, duduk di kursi empuk kantor kementerian, mencoba memasukkan angka-angka kemajuan ke dalam sistem yang justru menggunakan operator pembagi untuk setiap anggaran dan operator pengurang untuk setiap integritas.
Ia lalu melihat kembali pada rumus 1+12. Di atas kertas, itu adalah kebenaran mutlak. Namun di dunia yang baru saja ia baca di berita, 1 niat baik ditambah 1 jabatan menteri ternyata bisa menghasilkan 18 tahun penderitaan. Sebuah aritmatika yang tidak pernah ia temukan dalam buku teks mana pun.
Perlahan, Okta meletakkan stylus-nya. Kebangkitan nasional yang ia bayangkan sebelumnya di mana anak muda jenius pulang untuk memimpin—mendadak terasa seperti film horor dengan plot twist yang buruk.
"Mungkin," bisiknya pada ruang kosong, "mengerjakan soal kalkulus yang paling rumit sekalipun jauh lebih aman daripada berurusan dengan variabel hukum di tanah air."
Hari itu, sebuah cita-cita besar tidak mati karena kurangnya nyali, melainkan karena logika matematika yang kalah telak oleh logika kekuasaan. Okta memilih bangkit dari kursi kerjanya, bukan untuk memimpin bangsa, tapi untuk memastikan ia tidak berakhir menjadi angka dalam statistik pesakitan berikutnya.
— Padahal Boedi Oetomo mengubah perjuangan dari angkat senjata menjadi perjuangan melalui pendidikan, kebudayaan, dan diplomasi yang sejahtera.

Posting Komentar
0 Komentar