[DILEMA] Tiga Puluh Detik

 



Judul : Tiga Puluh Detik
Oleh : Reyhanun Dzhabiyyah Zahra


Tiga Puluh Detik 

Bunyi notifikasi di gawaiku terdengar seperti biasa tetapi perasaan menerimanya terasa seperti pertama kali aku mengenalnya, pertama kali aku dekat dengannya, pertama kali dia mengajakku untuk pergi menghabiskan waktu bersama. Di sana tertulis ajakan untuk makan makanan yang biasa kita lakukan bersama setelah sekian lama kita berada di hubungan jarak jauh. Suara kereta terdengar mulai pelan, artinya perjalananku sudah hampir tiba. Di pintu keluar, dia sudah berdiri menunggu dengan membawa makanan kesukaanku, makanan yang sering dia beli sepulang sekolah untukku agar saat aku tiba di rumah suasana hatiku terasa lebih baik. Rasa lelah dalam perjalanan yang menempuh 3 jam lebih 45 menit seketika pudar, hatiku terasa penuh. Aku bisa kembali bertemu dengannya dan aku bisa merasakan kembali perasaan seperti pada saat awal kita bersama.

Pilihan pakaian yang tidak ada habisnya yang dapat aku pilih untuk dikenakan pada saat kita akan kembali bertemu. Cermin mulai bosan melihatku berganti pakaian terlalu lama hingga pada akhirnya aku memilih warna pakaian yang biasa dikenakan, warna hitam. Aku hanya bersolek tipis karena rasa percaya diriku bertambah saat berada di sebelahnya. Tak lama, kita bertemu setelah aku menunggu beberapa menit dan aku melihat sedikit perbedaan darinya, gaya berpakaian baru yang dia temukan. Namun, dia masih seperti yang aku kenal, mempersiapkan tempat yang akan kita datangi bersama seharian penuh. Aku menjalani hari itu penuh dengan rasa rindu yang akhirnya lepas di udara, bahkan rasanya aku ingin dia selalu bersama disetiap detik hidupku. Dia memberikan janji pada sore itu yang akan terus aku minta untuk dikabulkan, bertemu kembali.

Kita hanya beberapa kali bertemu setelah lamanya berada di perjalanan yang berbeda. Kita tetap memiliki rutinitas masing-masing, kita bahkan sulit untuk menemukan hari yang dapat ditentukan untuk kita habiskan bersama kembali. Aku mengerti segala situasi yang kita lewati dan menurutku komunikasi punya peran utama dalam menyempurnakan suasana. Aku mencoba untuk membuka emosiku tentang sesuatu yang aku rasakan, aku hanya ingin bertemu dengannya. Namun, aku justru salah, semakin aku terbuka persoalan itu dia memperlihatkan dirinya yang lain. Selama ini dia memendam perasaan lain untukku. Malam itu ego kita bertemu, semua emosi yang kita rasakan mengalir begitu saja.

“Hidup aku mulai hancur karena kita.”

Satu kalimat yang sontak membuatku terasa berhenti hidup selama 30 detik. Sakit yang tidak lama aku rasakan, sakit paling dalam yang tidak ingin aku terima, sakit yang entah kapan akan ditemukan obatnya, sakit yang membuatku hampir mati. Seketika banyak sekali pertanyaan yang muncul dipikiranku.
Air mata tidak mengalir deras, bahkan tidak mencoba untuk mengalir. Ia hanya terbendung, mencoba memahami sesuatu yang sedang terjadi secara tiba-tiba.

Rasanya seperti hampir mati, dipaksa berjalan di atas serpihan kaca yang bahkan bukan perbuatanku. Aku tidak pernah keliru pada setiap langkah yang aku pilih dalam hidup, terlebih aku akan berani melangkah ketika aku tidak yakin dengan perasaanku. Alhasil, aku menyadari bahwa tidak pernah benar-benar siap dengan akhir yang akan terjadi. Aku tidak pernah menyalahkan takdir, bahkan aku tidak
berani bertanya bagaimana bisa aku dipertemukan denganmu jika pada akhirnya kita akan saling kehilangan. Ketika aku melihatnya sebagai tujuan hidupku yang ingin aku raih setiap detik, justru dirinya yang lain mempersiapkan untuk melepasku di waktu yang menurutnya tepat dan malam itu adalah
waktunya.

Posting Komentar

0 Komentar