[DILEMA] - Mie Ayam
Judul: Mie Ayam
Oleh: Penasastra
Mie Ayam
Semangkuk Mie Ayam Pangsit menemaniku setiap hari. Dengan daun bawang dan kuah kaldu yang gurih, kusirami mangkuk yang berisi Mie kenyal dan sesendok ayam bumbu kecap. Pak Ramli namanya, pengracik Mie Ayam favoritku. Orang-orang termasuk aku suka dengan mie nya, bukan karena rasanya, tapi karena bapaknya. Racikannya sederhana, tapi keramahan yang diberikan oleh Pak Ramli terasa begitu hangat. Seolah setiap pengunjungnya adalah saudaranya. Diperlakukan selayaknya orang yang sudah lama dikenalnya. Membuat siapapun yang membeli Mie Ayam milik Pak Ramli, merasa sangat dekat dengan dia. Tidak jarang para pembelinya diberikan diskon karena dirasa kisahnya atau yang dirasakannya cukup berat. Itulah sebab kenapa Pak Ramli dagangannya selalu laris.
Namun bulan mei semua berubah. Dimulai dari satu minggu sehabis lebaran, Pak Ramli sudah tidak pernah berdagang. Aku dan banyak orang mencarinya. Menanyakannya. Bahkan mencoba untuk mencari tahu alamat tempat tinggalnya. Kita bukan, mencari mie ayamnya, tapi kami mencari Pak Ramlinya. Beliau bisa khawatir dengan keadaan kita, tapi aku pribadi merasa menolak untuk melupakannya. Banyak orang beralih ke Mie Ayam lain, tapi tidak mendapatkan apa yang didapat dari Pak Ramli. Bulan Mei seperti terasa panjang. Semua orang kehilangan Pak Ramli. Kami tidak tahu dimana keberadaanya, kami tidak punya lagi tempat tuk bercerita.
Empat minggu berselang, seorang anak muda mengaku sebagai anaknya datang tuk berjualan mie ayam. Semua menanyakan dimana keberadaan ayahnya. Jawabannya sederhana, dia pergi. Ditanya kemana, dia tidak jawab, hanya perlahan pergi dan tak belum kembali lagi. Semua orang termasuk aku kecewa dan berharap Pak Ramli baik-baik saja. Aku mencoba mie ayam buatan anaknya, akan tetapi rasanya sangat enak, lho kenapa enak? Percuma jika rasanya enak, tapi tidak senyaman sebelumnya. Dan ini bukan tentang mie ayam ataupun Pak Ramli.

Posting Komentar
0 Komentar