[DILEMA] - Lebaran Tidak Selalu Tentang Pulang

 

Judul : Lebaran Tidak Selalu Tentang Pulang 

Oleh : Fitri Fadilah


Lebaran hari pertama, ruang tamu masih ramai. Tangan sibuk salaman, senyum pun
tetap diusahakan. Di tengah suasana yang hangat itu, selalu ada satu momen yang membuatku seketika terdiam, ketika obrolan perlahan berubah menjadi pertanyaan.

“Kuliah di mana sekarang?”

“Sambil kerja juga nggak?”

“Sekarang sibuk apa?”

“Kok kelihatan di rumah terus sih?”

Lalu disusul dengan kalimat-kalimat yang terdengar ringan, tapi entah kenapa terasa
lebih lama tertinggal di kepala.

“Kok sekarang kurusan?”

“Lagi banyak pikiran, ya?”

“Makan yang banyak, ya.”

Aneh, ya. Lebaran seharusnya jadi momen paling hangat. Tapi justru di saat seperti itu,
aku sering merasa tidak cukup. Tidak cukup cepat, tidak cukup berhasil, tidak cukup sesuai
dengan harapan yang mungkin bahkan tidak pernah benar-benar aku pahami.

Pertanyaan yang dianggap sekadar basa-basi ternyata bisa berubah menjadi tekanan.
Terutama bagi seseorang yang sedang berusaha menjalani hidupnya, pelan-pelan, dengan
caranya sendiri.

Tidak semua orang berada di fase yang sama. Tapi entah kenapa, perbandingan itu selalu hadir, seolah tanpa diundang. 

Di satu sisi, orang-orang datang membawa cerita dan tawa, seolah semuanya baik-baik saja. Di sisi lain, aku justru memilih masuk ke dalam kamar. Bukan karena tidak ingin bersilaturahmi, tapi karena takut. Takut merasa semakin tertinggal, takut dibandingkan, takut
kembali merasa gagal. 

Padahal, yang sebenarnya aku butuhkan sederhana, dihargai.

Setiap proses yang aku jalani tidak instan. Ada usaha, ada jatuh bangun yang mungkin
tidak terlihat. Tapi entah kenapa, yang sering tampak justru kekuranganku saja.

Membangun self-esteem bukan hal yang mudah. Kedengarannya sederhana, tapi
menjalaninya tidak sesederhana itu. Tidak semua orang tahu apa yang sudah kita lewati, apa yang sudah kita tahan, dan apa yang diam-diam kita usahakan.

Aku sering dianggap terlalu sensitif, terlalu baper, tidak bisa diajak bercanda. Tapi
salahkah jika aku jujur dengan perasaanku sendiri?

Bukankah setiap orang punya batas dan kapasitasnya masing-masing?

Setelah semua pertanyaan dan celoteh itu berlalu, yang tersisa justru suara di dalam
kepala sendiri.

“Selama ini aku terlalu percaya diri, ya?”

“Atau memang aku belum sejauh yang mereka bayangkan?”

Hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele, perlahan menetap lebih lama dari yang
seharusnya. 

Namun, kalau dipikir lagi, mungkin ini bukan hanya tentang aku.

Ada pola yang terus berulang setiap tahun. Pertanyaan yang sama, cara bercanda yang
sama, bahkan standar yang terasa tidak banyak berubah. Tanpa disadari, kita tumbuh dalam
lingkungan yang menjadikan pencapaian sebagai bahan obrolan utama.

Seolah nilai seseorang bisa diringkas hanya dari sejauh apa dia melangkah, dan sudah
terlihat “berhasil” atau belum.

Padahal hidup tidak berjalan dalam satu garis waktu yang sama.

Ada yang melangkah cepat, ada yang memilih pelan.

Ada yang terlihat “sudah sampai”, ada yang masih berproses, dan itu tidak selalu berarti
tertinggal. 

Mungkin yang perlu kita sadari bukan hanya bagaimana kita menjawab pertanyaan-
pertanyaan itu, tapi juga bagaimana kita mengajukannya.

Karena tidak semua yang terdengar biasa, benar-benar terasa biasa bagi orang lain.

Lebaran seharusnya tetap menjadi ruang untuk pulang, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara perasaan. Ruang di mana kita merasa cukup, tanpa harus dibandingkan, tanpa harus
menjelaskan sejauh apa kita sudah berjalan.

Karena pada akhirnya, setiap orang sedang berjuang dengan versinya masing-masing.
Dan itu sudah lebih dari cukup.


Posting Komentar

0 Komentar